Tinggian Pegunungan Selatan Yogyakarta & Sekitar Diawali Oleh Kemunculan Gunung Api Bawah Laut

Tubuh gunung api moderen identik dengan bentuk fisik mirip kerucut simetri maupun terpancung bagian puncaknya yang hidup menjulang tinggi dengan view indahnya, udara sejuk dan dingin, dan ditambah adanya asap putih bersih yang selalu mengepul keluar dari kawah di puncaknya. Pembelajaran visual fisik inilah yang mungkin menjadi penyebab bahwa generasi penulis atau sebelumnya tidak mudah menerima pengertian atau gambaran hasil riset duapuluhan tahun terakhir ini bahwa sebaran tubuh gunung api mono tidak harus membangun tubuhnya berbentuk kerucut. Pengertian gunung api adalah magma yang dapat mencapai permukaan bumi. Artinya, bilamana kita di lapangan menjumpai dan dapat memeri batuan beku luar seperti aliran lava dan kubah lava, itulah gunung api yang sebenarnya. Bilamana dalam perjalanannya gunung api tersebut tidak mati, maka dapatlah tumbuh membangun tubuhnya sendiri dengan segala proses yang menyertainya, dapat mengeluarkan material pijar ke permukaan bumi di sekitar lubang kawah utamanya berupa produk lelehan dan produk letusannya. Kegiatan yang menyertainya tersebut sering dikenal dengan tipe Hawaiian, Vulkanian, Strombolian, dan Plinian hingga Super Plinian.

Pemahaman fisik gunung api tersebut sangat penting dalam kaitannya dengan pengungkapan adanya variabel gunung api yang menyertai atau malah sebagai aktor utama pembangunan tinggian Pegunungan Selatan seperti judul di atas. Menyimak pengertian gunung api di atas dan keberadaannya, tentunya magma dalam perjalanannya menuju permukaan bumi melalui celah atau bukaan kecil atau yang menganga besar, setempat atau memanjang. Celah atau bukaan tersebut terkait rejim tektonik tarikan, bukan gencetan yang mungkin langsung membangun tinggian, oleh sebab itu kemunculannya akan diawali oleh tipe lelehan atau aliran, hal ini tergantung oleh propertis magma, lingkungan sekitar yaitu di darat atau di bawah muka air (lihat foto).
Di Pegunungan Selatan, kumpulan batuan tertua dibangun oleh sedimen klastika laut, dan batuan beku berupa batuan terobosan dangkal (sill, retas) dan aliran lava yang mempunyai karakter khusus yaitu berstruktur bantal, sebagai penunjuk membeku di bawah permukaan air. Berdasarkan asosiasi batuan sekitar yang mengungkungi aliran lava bantal tersebut bereaksi dengan HCl, maka diinterpretasikan sebagai lingkungan laut. Kumpulan batuan tersebut dikenal sebagai Formasi Kebo-Butak, yang pelamparan setempat-setempat di jumpai di wilayah bagian barat di Berbah, Prambanan, Sleman. Di sisi lain, produk letusan gunung api bawah laut di Pegunungan Selatan yang berasosiasi dengan lava bantal adalah tuf basal atau tuf hitam atau dikenal sebagai hialoklastit. Masa piroklastika ini juga mendukung pembangunan awal tinggian Pegunungan Selatan (lihat foto), tampak adanya perlapisan tebal, mengalami pelapukan membulat (sphaeroidal weathering), terkekarkan, dan tidak bereaksi dengan HCl.

Singkapan sisa tubuh gunung api purba di Kali Nampu, Bayat

 

 

 

 

 

Singkapan sisa tubuh gunung api purba di Watuadeg, Berbah, Sleman.

 

 

 

Singkapan tuf hitam di Kali Nampu, Bayat